Pernah
ada masa di mana saya begitu dekat dengannya, saling menggenggam, berbagi tawa
dan waktu. Begitu erat genggamannya, begitu menenangkan tatapan dan senyumnya,
begitu hangat pelukannya.
Pernah
ada masa di mana saya bebas bercerita kapanpun dan dimanapun dengannya, begitu
bebas mendengar semua kata yang keluar dari mulutnya. Kata-kata itu lalu saya
rangkai menjadi sebuah fondasi dan dasar saya berpijak, menentukan langkah dan
berlari mencapai tujuan; mimpi.
Pernah
ada masa di mana saya diwajibkan untuk mendengar celotehannya sekaligus suara
penyiar televisi, tentang politik, hukum, motivasi dan filsata. Jenuh? Tidak
sama sekali. Hal sederhana yang dilakukan secara rutin itu lah yang membentuk
karakter saya.
Pernah
ada masa di mana saya menangis, mengadu, berkeluh kesah, dengan begitu
bebasnya, mengharap pelukan dan sentuhan. Belaian kasih dan kecup penuh
cinta.
Waktu
terus berjalan, tidak ada lagi saling menggenggam. Kami saling melindungi dan
menguatkan diam-diam.
Tidak
ada lagi pelukan, kecupan, sentuhan dan belaian. Kami mengasihi dengan saling
mendoakan dan berjuang memenuhi tugas masing-masing.
Tidak
ada lagi bercerita dan berkeluh kesah dengan bebas karena waktu kami sama-sama
tersita untuk mengemban dan menyelesaikan tanggung jawab masing-masing.
Sesaat
saya merasa fondasi terkuat saya runtuh, kehilangan tempat untuk berpijak dan
hilang arah.
Tapi
nyatanya ini hanyalah pembelajaran untuk semakin kuat, untuk berhati-hati dalam
menentukan langkah. Untuk tahu artinya perjuangan. Untuk tahu kerasnya dunia.
Untuk bisa berjalan sendiri dengan lutut yang gemetar, mendaki sampai puncak.
Karena nyatanya ia hanya bisa mendukung, namun yang harus menghadapi pergulatan
dengan kehidupan adalah saya sendiri.
Kami
tidak pernah terpisah walau jarak serasa jauh diantara kami.
Kami
sepakat, setelah pembagian tugas, kami sama-sama akan melakukannya dengan
sungguh-sungguh.
Saya
belajar dan Ayah bekerja.
Meskipun
sudah tidak ada panggilan sayang seperti "bidadari kecilku." Saya
tetaplah bidadari di hatinya, saya tahu itu.
Karena
Ayah selalu menginginkan yang terbaik untuk saya.