Minggu, 05 November 2017

Pernah Ada Masa



Pernah ada masa di mana saya begitu dekat dengannya, saling menggenggam, berbagi tawa dan waktu. Begitu erat genggamannya, begitu menenangkan tatapan dan senyumnya, begitu hangat pelukannya.

Pernah ada masa di mana saya bebas bercerita kapanpun dan dimanapun dengannya, begitu bebas mendengar semua kata yang keluar dari mulutnya. Kata-kata itu lalu saya rangkai menjadi sebuah fondasi dan dasar saya berpijak, menentukan langkah dan berlari mencapai tujuan; mimpi. 

Pernah ada masa di mana saya diwajibkan untuk mendengar celotehannya sekaligus suara penyiar televisi, tentang politik, hukum, motivasi dan filsata. Jenuh? Tidak sama sekali. Hal sederhana yang dilakukan secara rutin itu lah yang membentuk karakter saya.

Pernah ada masa di mana saya menangis, mengadu, berkeluh kesah, dengan begitu bebasnya, mengharap pelukan dan sentuhan. Belaian kasih dan kecup penuh cinta. 

Waktu terus berjalan, tidak ada lagi saling menggenggam. Kami saling melindungi dan menguatkan diam-diam.
Tidak ada lagi pelukan, kecupan, sentuhan dan belaian. Kami mengasihi dengan saling mendoakan dan berjuang memenuhi tugas masing-masing.
Tidak ada lagi bercerita dan berkeluh kesah dengan bebas karena waktu kami sama-sama tersita untuk mengemban dan menyelesaikan tanggung jawab masing-masing.

Sesaat saya merasa fondasi terkuat saya runtuh, kehilangan tempat untuk berpijak dan hilang arah.

Tapi nyatanya ini hanyalah pembelajaran untuk semakin kuat, untuk berhati-hati dalam menentukan langkah. Untuk tahu artinya perjuangan. Untuk tahu kerasnya dunia. Untuk bisa berjalan sendiri dengan lutut yang gemetar, mendaki sampai puncak. Karena nyatanya ia hanya bisa mendukung, namun yang harus menghadapi pergulatan dengan kehidupan adalah saya sendiri.

Kami tidak pernah terpisah walau jarak serasa jauh diantara kami.
Kami sepakat, setelah pembagian tugas, kami sama-sama akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Saya belajar dan Ayah bekerja.

Meskipun sudah tidak ada panggilan sayang seperti "bidadari kecilku." Saya tetaplah bidadari di hatinya, saya tahu itu.
Karena Ayah selalu menginginkan yang terbaik untuk saya.