Sabtu, 28 Juli 2012

Trisya

Lagi-lagi Trisya harus menunggu. Ia menuangkan gula ke dalam kopinya untuk kesekian kali. Ia menyilangkan kakinya, melepas kacamatanya dan menatap keluar jendela. Di luar hujan, padahal bulan Juli. Bibirnya menyesap kopi. Lidahnya berdecak. Ahh, sudah terlalu manis. Setiap satu jam, ia menuangkan satu sendok gula ke dalam kopinya, sedangkan ia sudah menunggu selama 4 jam.
Tiba-tiba pintu cafe terbuka, seorang pria dengan rambut lepek akibat air hujan melempar senyum padanya. Trisya menarik bibirnya sehingga membentuk lengkungan sempurna yang indah. Sekesal-kesalnya Trisya pada pria itu, tetap saja pria itu dapat membuat Trisya tersenyum.
"Sayang, maaf. Tadi aku nganterin pacar aku pemotretan." Penyesalan sangat tergambar jelas dalam wajahnya.
"Tak apa, Jo." Suara lembut Trisya membuat Johar sedikit lega. Ia segera duduk di hadapan Trisya sambil sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Loh, kamu kehujanan? Ke sini naik apa?" Suara Trisya sangat khawatir. Tatapan matanya tak lepas-lepasnya dari pria itu.
"Aku naik mobil, tapi parkiran di sekitar cafe sudah penuh, jadi agak jauh." Suara jo kembali seperti semula, tidak ada nada lembut seperti tadi. Dingin.
"kamu mau pesan minuman? Aku pesenin, ya? Minuman hangat, kan? Kamu kedinginan." Trisya hendak beranjak dari tempat duduknya sebelum tangan Jo menyentuhnya, isyarat agar Trisya tetap duduk.
"Tidak perlu, sayang. Aku saja yang pesan nanti." Jo tersenyum. Trisya menatapnya.
"Sayang? Seberapa sayang kamu sama aku?" Pertanyaan klaskik yang biasa diajukan oleh para wanita yang mulai merasa tak tenang.
"Lebih dari pacarku." Jawabnya enteng. Dering ponsel Trisya terdengar. Trisya melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya, sahabat lamanya menelpon.

"Sebentar." Gumamnya. "ya, hallo?"
"oh, ya?" Nada riang Trisya menyahut suara di ujung sana.
Jo menunggu Trisya dengan sabar. 20 menit berlalu.
"Wah,  ya sudah kalau begitu. Dah!" Trisya mengakhiri percakapan, sinar matanya kembali redup. Menatap wajah Jo yang sudah dapat membaca pikiran Trisya.
"Siapa? sahabatmu itu, ya? Azra?" Nada suara Jo terdengar tak sabar. Pandangan mata Trisya kosong menghadap kedua bola mata Jo.
"Iya." Trisya memaksakan senyum, "dia cerita tentang semua yang sudah ia lakukan dengan kekasihnya hari ini. Ia bahagia."
"Yang dilakukan bersamaku?"
***
-Bunga Cinka

Jumat, 27 Juli 2012

kenapa tidak aku?

"Untuk pacarmu kali ini, kamu benar-benar sayang dia?" Pria itu lagi-lagi menatapku, pertanyaan ini sudah kesekian kalinya dia utarakan. Aku mengangguk sambil menyesap lychee tea ku.
"Apa ada sekat antara kamu dan dia?" Dia bertanya lagi. Sepertinya, pertanyaannya tidah habis-habis.
"Tentu. Jarak dan bedanya iman kami." jawabku santai sambil menatapnya, matanya membulat menunjukkan ekspresi heran. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya. Wajahnya begitu meremehkan cinta kami.
"Lalu? untuk apa kamu pertahankan, Riel?" Dony menyandarkan tubuhnya.
 "Cinta?" nadaku ragu, aku mengangkat kedua bahu.
"Cinta?!"Ulangnya lumayan keras, hampir seluruh pengunjung cafe melemparkan pandangan pada kami. Aku tetap cuek sedangkan, Dony menatapku tak percaya.
"Apa yang kamu percaya? Cinta? Itu bodoh! Sampai kapan pun kalian gak akan bisa menyatu, di ujung kalian tetap harus berpisah! sudah dijauhkan oleh jarak ditambah berbeda iman pula!" Dony memelankan suaranya.
"Ujung? Di mana ujungnya?" Tanyaku sok tak peduli, tapi aku dapat merasakan detak jantungku yang berirama sangat cepat.
"Entah." dia menghela nafas, "kenapa kamu tidak cari yang pasti saja? Yang lebih dewasa misalnya." dia memainkan jemarinya.
Aku hanya bergumam. Dia selalu mempersoalkan hal yang sama, kehidupan cintaku yang memang begitu rumit. Tapi, aku tetap tenang menjalaninya, aku bahagia.
"Iya, yang se-iman pula dengan kamu. Sudah berapa lama kamu bersamanya? Hampir satu tahun, kan? Tapi aku tak pernah melihat kamu jalan bersamanya, kamu selalu bersamaku." Aku meliriknya sesaat. Aku tak dapat menolak bahwa dalam hatiku, aku membenarkan apa yang ia bicarakan.
"Kak, aku ini tenang-tenang saja kok menjalaninya, kalau memang harus berpisah,ya, kami akan berpisah." Aku menatap Dony di hadapanku, pria yang umurnya 5 tahun lebih tua dariku ini sama sekali tak pernah membuat aku merasa kesepian. Dia selalu ada, di sini, di sampingku, dan di dalam sini.
Namanya selalu bergelayut manja dalam otakku dan aku tak dapat menyangkalnya. Tapi, dia pula yang membuat aku lelah menunggunya terus menerus. Aku harus meminta pertolongan agar ada yang bisa membuat Dony keluar dari hatiku.
"Kenapa harus menunggu lama berpisahnya?"
"Karena aku masih sayang dia."
"Lalu, makin lama sayang kamu bisa hilang?" Nafasnya memburu, "pria di sekeliling kamu itu ada banyak, mereka gak hanya di sekelilingmu. Tapi juga berusaha mendekatimu.”
Kami sama-sama terdiam. Berdiam cukup lama. Mengunci mulut masing-masing.
Tak ada suara.
Masih tak ada suara.
"Dan dari banyaknya pria itu, kamu memilih yang tidak pasti." Ia melanjutkan.
"Kenapa dia?" Desahnya. Aku sibuk menatap orang berlalu-lalang di luar jendela. Aku menghela nafas panjang dan mengalihkan pandanganku menjadi menatap matanya yang tajam.
 "Lalu aku harus pilih siapa?"
 "Kenapa tidak aku?"

Kamis, 26 Juli 2012

Otak dan Hati

Aku termangu, mendengar dua bagian dari diriku berbicara. Otak dan hati ku sedang tak akur, dan lagi-lagi hal yang dipermasalahkan masih sama. Apalagi kalau bukan cinta?
“cinta itu tolol!” otak ku berteriak, teriakannya terngiang-ngiang dikepalaku. Saking kerasnya aku hampir limbung, untung aku masih bisa mempertahankan kedudukan ku.
“lalu? Bagaimana dengan logika?” hati ku berteriak, namun teriakannya lebih lembut.
“logika dapat diperhitungkan! Berbeda dengan cinta yang hanya sekedar perasaan.”
“tapi cinta itu ada!”
“cinta itu ilusi!” otakku berkata tajam, lagi-lagi aku harus memejamkan mataku untuk menahan pusing yang hebat.
“tapi manusia butuh cinta.” Hatiku tak gentarnya untuk membela.
“cinta itu khayalan manusia! Mereka yang buat khayalan itu sendiri dan mereka pula yang sakit akibatnya!” aku jatuh terduduk, masih terus mendengar yang sedang mereka ributkan.
Hatiku terdiam cukup lama, tidak menjawab. Kemudian air mataku menetes.
“Lihat! Lihat! Menangis! Itu adalah salah satu ulah cinta!” Otakku berteriak girang. Hatiku tersayat, perih. Ia merintih menahan sakitnya.
“tapi tak selamanya cinta itu menyakitkan!” hatiku menjerit parau. “jika cinta sekarang mengajarkan betapa sakitnya, cinta dikemudian hari akan mengajarkan sisi lain dari cinta!”
“hey! Lihat goresan-goresan di tubuhmu! Bukankah itu juga disebabkan oleh cinta?” otakku menajamkan kata ‘cinta’, ia meremehkannya. Hatiku menunduk, melihat sekujur tubuhnya yang banyak sekali terdapat goresan luka.
“suatu hari nanti, akan ada yang mengobatinya.” Hatiku berkata lembut.
“kau itu terlalu bodoh! Masih mau disakiti, tidak pernah pakai logika sih!” otakku berkata sombong.
“tidak selamanya yang memakai logika itu benar!” Hatiku masih berusaha untuk berbicara sambil menahan sakitnya. Pipiku dibanjiri oleh air mata. Sudah cukup! Jangan begini terus! Aku mencoba berteriak, namun tak kuasa untuk melakukannya. Aku hanya dapat membiarkan air mataku jatuh semakin deras.
“manusia selalu terlihat lemah karena perasaan!”otakku masih tak mau berhenti mengganggu hatiku.
“kalau tidak punya perasaan, akan jadi apa mereka nanti? Pasti semaunya.” Hatiku menjawab.
Suasana menjadi hening.
Hening.
Masih hening.
Dan masih hening.
Namun….
“barbaikanlah.” Sebuah suara akhirnya muncul.
“untuk apa?!” Teriak otak menjawabnya.
“kalian saling membutuhkan.”
“Tidak! Aku terlalu kuat untuk berbaikan dengan hati! Ia saja yang terlalu lemah makanya membutuhkanku.” Umpat otak.
Tidak muncul lagi sebuah suara. Otak merasa menang dan menatap tajam hati.
 “kita saling membutuhkan.” Rintih hati. “cinta juga harus memakai logika, kita harus seimbang.” Hati mendongak, melihat kearah otak. Otak terdiam dan tak ada lagi gaya sombongnya.
“karena kita bertengkar, semuanya jadi tak pasti. Menjadi tak karuan.” Hatiku berkata lagi. Otak diam dan mencerna kata-kata hati.
Kali ini pusing yang melanda ku mereda. Tangis ku berhenti, keganjalan yang bersarang di dadaku berangsung-angsur lenyap. Apakah mereka sudah berbaikan? Benar. Cinta juga memakai logika, jangan terlalu bodoh. Perasaan tanpa logika dan logika tanpa perasaan itu tak bisa. Mereka harus seimbang. Benar. Seimbang.


-Bunga Cinka