"Untuk pacarmu kali ini, kamu
benar-benar sayang dia?" Pria itu lagi-lagi menatapku, pertanyaan ini
sudah kesekian kalinya dia utarakan. Aku mengangguk sambil menyesap lychee
tea ku.
"Apa ada sekat antara kamu
dan dia?" Dia bertanya lagi.
Sepertinya, pertanyaannya tidah habis-habis.
"Tentu. Jarak dan bedanya
iman kami." jawabku santai sambil menatapnya, matanya membulat menunjukkan
ekspresi heran. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya. Wajahnya
begitu meremehkan cinta kami.
"Lalu? untuk apa kamu
pertahankan, Riel?" Dony menyandarkan tubuhnya.
"Cinta?" nadaku
ragu, aku mengangkat kedua bahu.
"Cinta?!"Ulangnya
lumayan keras, hampir seluruh pengunjung cafe melemparkan pandangan pada kami.
Aku tetap cuek sedangkan, Dony menatapku tak percaya.
"Apa yang kamu percaya?
Cinta? Itu bodoh! Sampai kapan pun kalian gak akan bisa menyatu, di ujung
kalian tetap harus berpisah! sudah dijauhkan oleh jarak ditambah berbeda iman
pula!" Dony memelankan suaranya.
"Ujung? Di mana
ujungnya?" Tanyaku sok tak peduli, tapi aku dapat merasakan detak jantungku
yang berirama sangat cepat.
"Entah." dia menghela
nafas, "kenapa kamu tidak cari yang pasti saja? Yang lebih dewasa
misalnya." dia memainkan jemarinya.
Aku hanya bergumam. Dia selalu
mempersoalkan hal yang sama, kehidupan cintaku yang memang begitu rumit. Tapi,
aku tetap tenang menjalaninya, aku bahagia.
"Iya, yang se-iman pula
dengan kamu. Sudah berapa lama kamu bersamanya? Hampir satu tahun, kan? Tapi
aku tak pernah melihat kamu jalan bersamanya, kamu selalu bersamaku." Aku
meliriknya sesaat. Aku tak dapat menolak bahwa dalam hatiku, aku membenarkan
apa yang ia bicarakan.
"Kak, aku ini tenang-tenang
saja kok menjalaninya, kalau memang harus berpisah,ya, kami akan
berpisah." Aku menatap Dony di hadapanku, pria yang umurnya 5 tahun lebih
tua dariku ini sama sekali tak pernah membuat aku merasa kesepian. Dia selalu
ada, di sini, di sampingku, dan di dalam sini.
Namanya selalu bergelayut manja
dalam otakku dan aku tak dapat menyangkalnya. Tapi, dia pula yang membuat aku
lelah menunggunya terus menerus. Aku harus meminta pertolongan agar ada yang
bisa membuat Dony keluar dari hatiku.
"Kenapa harus menunggu lama
berpisahnya?"
"Karena aku masih sayang
dia."
"Lalu, makin lama sayang
kamu bisa hilang?" Nafasnya memburu, "pria di sekeliling kamu itu ada
banyak, mereka gak hanya di sekelilingmu. Tapi juga berusaha mendekatimu.”
Kami sama-sama terdiam. Berdiam
cukup lama. Mengunci mulut masing-masing.
Tak ada suara.
Masih tak ada suara.
"Dan dari banyaknya pria
itu, kamu memilih yang tidak pasti." Ia melanjutkan.
"Kenapa dia?" Desahnya.
Aku sibuk menatap orang berlalu-lalang di luar jendela. Aku menghela nafas
panjang dan mengalihkan pandanganku menjadi menatap matanya yang tajam.
"Lalu aku harus pilih
siapa?"
"Kenapa tidak aku?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar