Jumat, 27 Juli 2012

kenapa tidak aku?

"Untuk pacarmu kali ini, kamu benar-benar sayang dia?" Pria itu lagi-lagi menatapku, pertanyaan ini sudah kesekian kalinya dia utarakan. Aku mengangguk sambil menyesap lychee tea ku.
"Apa ada sekat antara kamu dan dia?" Dia bertanya lagi. Sepertinya, pertanyaannya tidah habis-habis.
"Tentu. Jarak dan bedanya iman kami." jawabku santai sambil menatapnya, matanya membulat menunjukkan ekspresi heran. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya. Wajahnya begitu meremehkan cinta kami.
"Lalu? untuk apa kamu pertahankan, Riel?" Dony menyandarkan tubuhnya.
 "Cinta?" nadaku ragu, aku mengangkat kedua bahu.
"Cinta?!"Ulangnya lumayan keras, hampir seluruh pengunjung cafe melemparkan pandangan pada kami. Aku tetap cuek sedangkan, Dony menatapku tak percaya.
"Apa yang kamu percaya? Cinta? Itu bodoh! Sampai kapan pun kalian gak akan bisa menyatu, di ujung kalian tetap harus berpisah! sudah dijauhkan oleh jarak ditambah berbeda iman pula!" Dony memelankan suaranya.
"Ujung? Di mana ujungnya?" Tanyaku sok tak peduli, tapi aku dapat merasakan detak jantungku yang berirama sangat cepat.
"Entah." dia menghela nafas, "kenapa kamu tidak cari yang pasti saja? Yang lebih dewasa misalnya." dia memainkan jemarinya.
Aku hanya bergumam. Dia selalu mempersoalkan hal yang sama, kehidupan cintaku yang memang begitu rumit. Tapi, aku tetap tenang menjalaninya, aku bahagia.
"Iya, yang se-iman pula dengan kamu. Sudah berapa lama kamu bersamanya? Hampir satu tahun, kan? Tapi aku tak pernah melihat kamu jalan bersamanya, kamu selalu bersamaku." Aku meliriknya sesaat. Aku tak dapat menolak bahwa dalam hatiku, aku membenarkan apa yang ia bicarakan.
"Kak, aku ini tenang-tenang saja kok menjalaninya, kalau memang harus berpisah,ya, kami akan berpisah." Aku menatap Dony di hadapanku, pria yang umurnya 5 tahun lebih tua dariku ini sama sekali tak pernah membuat aku merasa kesepian. Dia selalu ada, di sini, di sampingku, dan di dalam sini.
Namanya selalu bergelayut manja dalam otakku dan aku tak dapat menyangkalnya. Tapi, dia pula yang membuat aku lelah menunggunya terus menerus. Aku harus meminta pertolongan agar ada yang bisa membuat Dony keluar dari hatiku.
"Kenapa harus menunggu lama berpisahnya?"
"Karena aku masih sayang dia."
"Lalu, makin lama sayang kamu bisa hilang?" Nafasnya memburu, "pria di sekeliling kamu itu ada banyak, mereka gak hanya di sekelilingmu. Tapi juga berusaha mendekatimu.”
Kami sama-sama terdiam. Berdiam cukup lama. Mengunci mulut masing-masing.
Tak ada suara.
Masih tak ada suara.
"Dan dari banyaknya pria itu, kamu memilih yang tidak pasti." Ia melanjutkan.
"Kenapa dia?" Desahnya. Aku sibuk menatap orang berlalu-lalang di luar jendela. Aku menghela nafas panjang dan mengalihkan pandanganku menjadi menatap matanya yang tajam.
 "Lalu aku harus pilih siapa?"
 "Kenapa tidak aku?"

Tidak ada komentar: