Lagi-lagi Trisya harus menunggu.
Ia menuangkan gula ke dalam kopinya untuk kesekian kali. Ia menyilangkan
kakinya, melepas kacamatanya dan menatap keluar jendela. Di luar hujan, padahal
bulan Juli. Bibirnya menyesap kopi. Lidahnya berdecak. Ahh, sudah terlalu
manis. Setiap satu jam, ia menuangkan satu sendok gula ke dalam kopinya,
sedangkan ia sudah menunggu selama 4 jam.
Tiba-tiba pintu cafe terbuka,
seorang pria dengan rambut lepek akibat air hujan melempar senyum padanya.
Trisya menarik bibirnya sehingga membentuk lengkungan sempurna yang indah.
Sekesal-kesalnya Trisya pada pria itu, tetap saja pria itu dapat membuat Trisya
tersenyum.
"Sayang, maaf. Tadi aku
nganterin pacar aku pemotretan." Penyesalan sangat tergambar jelas dalam
wajahnya.
"Tak apa, Jo." Suara
lembut Trisya membuat Johar sedikit lega. Ia segera duduk di hadapan Trisya
sambil sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Loh, kamu kehujanan? Ke sini
naik apa?" Suara Trisya sangat khawatir. Tatapan matanya tak
lepas-lepasnya dari pria itu.
"Aku naik mobil, tapi
parkiran di sekitar cafe sudah penuh, jadi agak jauh." Suara jo kembali
seperti semula, tidak ada nada lembut seperti tadi. Dingin.
"kamu mau pesan minuman?
Aku pesenin, ya? Minuman hangat, kan? Kamu kedinginan." Trisya hendak
beranjak dari tempat duduknya sebelum tangan Jo menyentuhnya, isyarat agar
Trisya tetap duduk.
"Tidak perlu, sayang. Aku saja
yang pesan nanti." Jo tersenyum. Trisya menatapnya.
"Sayang? Seberapa sayang
kamu sama aku?" Pertanyaan klaskik yang biasa diajukan oleh para wanita
yang mulai merasa tak tenang.
"Lebih dari pacarku."
Jawabnya enteng. Dering ponsel Trisya terdengar.
Trisya melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya, sahabat lamanya
menelpon.
"Sebentar." Gumamnya.
"ya, hallo?"
"oh, ya?" Nada riang
Trisya menyahut suara di ujung sana.
Jo menunggu Trisya dengan sabar.
20 menit berlalu.
"Wah, ya sudah kalau begitu. Dah!" Trisya
mengakhiri percakapan, sinar matanya kembali redup. Menatap wajah Jo yang sudah
dapat membaca pikiran Trisya.
"Siapa? sahabatmu itu, ya?
Azra?" Nada suara Jo terdengar tak sabar. Pandangan mata Trisya kosong
menghadap kedua bola mata Jo.
"Iya." Trisya
memaksakan senyum, "dia cerita tentang semua yang sudah ia lakukan dengan
kekasihnya hari ini. Ia bahagia."
"Yang dilakukan
bersamaku?"
***
-Bunga Cinka