Jumat, 01 Oktober 2021

Levana

 

    Dari balik jendela kelas lantai dua, Dalia mengamati perempuan yang melintas di lapangan sekolah. masih membawa tas punggung berwarna biru muda, meski tidak dapat melihat dengan jelas, Dalia yakin perempuan itu memasang airpods di telinga. Apalagi kalau bukan untuk meredam bisikan-bisikan memalukan dari siswa lain di sekelilingnya. Dalia menggigit roti gandum tanpa selai, mengernyit dan mendecak. 

    "Levana yang malang." Ia berbisik.

***

    "Kamu akan diam saja sampai akhir?" Dalia berdiri di hadapan Levana yang sedang sibuk menghabiskan potongan apel di wadah berwarna ungu, hanya itu yang akan masuk ke perut Levana sampai esok hari. 

    "Tidak masalah buatku." Levana menatap mata cokelat Dalia dengan nanar.

    "Setidaknya kamu harus menangis, memelas, meminta belas kasihan, agar mereka tidak membicarakanmu."

    "Dan hal itu harus aku perdulikan karena?"

    Dalia menahan diri untuk mendobrak meja yang terletak di antara mereka berdua, muak dengan topeng palsu yang dipasang oleh teman seperjuangannya, alih-alih Dalia duduk di meja itu lalu menghela napas panjang.

    "Setidaknya lepas topeng di wajahmu itu. Aku tau kamu tidak baik-baik saja." Dalia memalingkan wajah, luka di hatinya belum juga mengering.

    "Jika aku menangis, memelas dan meminta belas kasihan, rencanamu akan berhasil." Levana mencodongkan tubuhnya, mendekat. "diam adalah cara terbaik."

    "Lantas, akan kamu biarkan semua orang membicarakanmu?"

    Levana kembali menyandarkan tubuh, tentu ia tidak baik-baik saja. Ia ingin menangis, meraung dan berteriak sejadi-jadinya. Pekerjaannya kini adalah pekerjaan yang tidak ia dapatkan dengan mudah. Butuh puluhan sekolah modelling ia datangi, ratusan kali ditolak majalah dan perusahaan, tidur dini hari setelah mengerjakan tugas sekolah lalu akan pergi ke tempat casting sepulang sekolah. Ia kini populer, bukan karena kecantikannya karena wajahnya tidaklah sesuai dengan standar kecantikan umum. Wajahnya tegas dan sorot matanya tajam.

    Di semua perjalanan panjang itu, Dalia ada di sampingnya. Dengan mimpi yang sama, berjanji untuk berjalan di panggung yang sama suatu hari nanti. Berjanji akan saling mendatangi studio photo masing-masing jika mereka harus melakukan pemotretan untuk majalah papan atas.

    Namun, Dalia kalah. Kekalahannya dimulai ketika ia melihat Levana sebagai ancaman. Alih-alih fokus pada dirinya sendiri, ia sibuk mencari cara menjatuhkan Levana. Dimulai dari menyebarkan rumor di sekolahnya.

    "Mereka mungkin bodoh, memercayai segala rumor dan fitnah tanpa bukti jelas. Membicarakanku seolah-olah paling paham soal hidupku. Tapi orang yang menyebarkan berita bohong itulah yang paling buruk. Mereka mungkin bersekolah, tapi tidak lantas mereka bersikap seperti orang terdidik." Levana bangkit dari kursinya, "kamu bisa membuat onar dan menyebarkan berita bohong soal aku yang ditelanjangi di depan para pria untuk mendapatkan pekerjaan ini. Karena hal itu tidak akan bisa membuat wajahmu menjadi sampul majalah internasional ini." Levana menahan napas, lalu menghembuskannya dengan satu kali tarikan.

    "Pekan depan kamu akan melihat wajahku di mana-mana dan tidak perlu khawatir karena aku tidak akan mengotori tanganku dengan membalas perbuatanmu."

    Dalia berdecak, hatinya yang sekeras batu membuatnya tak sanggup untuk memahami seberapa besar kesalahannya sendiri. Perempuan di hadapannya lah yang paling salah. Karena bisa menjadi apa yang tidak bisa ia raih.

    "Citramu yang buruk akan memengaruhi perjalanan kariermu, setidaknya kamu takut akan hal itu."

    "Sebaiknya kamu berdoa untuk keselamatanmu," Levana tersenyum, "setiap yang hidup akan menuai apa yang ia tabur."

***

    Di kamarnya yang dingin dan gelap, Levana mempreteli kepura-puraannya dan menangis karena dadanya terjepit oleh lempengan pengkhianatan. Sesak menjalar hingga setiap relung tubuhnya. Kini setiap orang membicarakannya karena berita tidak benar dan ia kehilangan teman terbaiknya.

Rabu, 22 September 2021

TRISYA [2]

 

Trisya mengamati jemarinya yang dingin saling terkait. Apapun yang hendak meluncur dari bibirnya adalah kesalahan. Pembenaran hanyalah sebuah tameng yang rapuh. Sedangkan, penyesalan sudah tak ada arti. Ia melakukan kesalahannya secara sadar dan sengaja. Ia tak termaafkan.

“Lakukan apa yang kamu mau dan tanyakan apa yang ingin kamu tahu. Aku bisa mengatakan segalanya dengan jujur.” Trisya berusaha keras membuat dirinya tampak tegar. Namun, perempuan di hadapannya lebih tangguh dari yang Ia bayangkan.

“Luka mengubah seseorang dan aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang. Aku ingin tetap menjadi diriku yang sekarang. Jangan rubah aku dengan kejujuranmu.” Tak ada getir dalam suara sahabatnya, Azra, yang telah ia tancapkan belati di punggungnya dengan sengaja.

“Azra…” Trisya hendak meminta maaf namun pertahanannya telah runtuh, digantikan oleh rasa malu yang menghujani dirinya.

“Akan lebih mudah jika yang mengkhianatiku adalah orang yang memang membenciku, tapi orang itu hanya akan sekedar menyakitiku tanpa arti. Pengkhianatan datang dari orang yang sangat kupercaya dan sangat kuandalkan. Dari orang yang sangat kusayang.” Azra menyesap kopinya dengan tenang, “hal itu yang lebih menyulitkanku.” Tanpa Trisya dengar, suara debum kencang baru saja melesak di dalam dada sahabatnya. Hati dan rasa percaya Azra dihancurkan dengan telak oleh sebuah ego.

Trisya menyesal dan hal itu membuatnya merasa tak pantas menatap mata Azra, yang meskipun masih terlihat hangat seperti biasanya, Trisya tahu ada kilat luka di sana.

“Maafk…”

“Jangan.” Azra menghela napas, “Jangan meminta maaf. Hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah bawa Jo pergi menghilang bersamamu.”  Azra meletakan cangkir kopinya dengan hati-hati, sebentar lagi tahu lambungnya akan mengejang dan jantungnya berdetak lebih kencang, “menghilanglah dari hadapanku. Bersikaplah seperti kamu tidak mengenalku, sikap yang kamu gunakan saat kamu menggenggam tangan Jo.”

“Azra, kumohon…” Trisya tak sanggup menahan air matanya. Bulir air mata itu tak cukup memadamkan apa yang sudah terlanjur ia bakar. Segalanya telah hangus dan binasa.

“Cukup berbahagialah kalian berdua.” Azra tersenyum, “itu sudah lebih dari cukup mengobatiku. Setidaknya, tidak ada yang sia-sia dari tindakan kalian.” Azra beranjak dari kursinya, meninggalkan sahabat yang telah melindunginya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sahabat yang menyeka air matanya acapkali Azra jatuh tersungkur oleh kegagalan.

***

[ Lima jam sebelumnya ]

Trisya menggenggam tangan Jo, hangat yang dirasa oleh jemarinya menjalar sampai ke sudut-sudut kosong di hatinya yang tak terjamah sebelumnya.

“Hari ini kamu tidak terlambat.” Trisya tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bahu Jo.

“Azra membatalkan pemotretan hari ini dan aku tidak perlu mengantarnya.” Jo mengusap puncak kepala Trisya dengan kasih, “di sinilah aku sekarang. Menemanimu.”

Saat ia hendak mengecup pipi Jo, ponselnya bergetar. Nama sahabatnya nampak dalam layar, seperti yang sudah ia duga sebelumnya. Ia selalu menganggap Azra adalah bayi kecil yang tidak beranjak dewasa sama sekali. Azra akan menangis ketika seseorang mengganggunya, hingga Trisya terpaksa menghajar siapapun yang menyakiti Azra. Tapi ia lelah. Ia pun butuh perlindungan. Ia pun ingin dilindungi.

“Azra.” Trisya menerima panggilan sahabatnya, “ada apa?”

“Apakah menyenangkan? Seberapa dalam pisau yang hendak kamu tancapkan?” Azra bersuara di sebrang sana. Belum sempat Trisya mengerti, seseorang menepuk bahunya.

“Sayang…” Jo membelalak melihat kekasihnya berdiri di antara dirinya dan Trisya.

“Aku sudah tidak ada urusan dengan sampah sepertimu, aku hanya ingin menuntaskan sesuatu dengan sahabatku.”

***