Rabu, 22 September 2021

TRISYA [2]

 

Trisya mengamati jemarinya yang dingin saling terkait. Apapun yang hendak meluncur dari bibirnya adalah kesalahan. Pembenaran hanyalah sebuah tameng yang rapuh. Sedangkan, penyesalan sudah tak ada arti. Ia melakukan kesalahannya secara sadar dan sengaja. Ia tak termaafkan.

“Lakukan apa yang kamu mau dan tanyakan apa yang ingin kamu tahu. Aku bisa mengatakan segalanya dengan jujur.” Trisya berusaha keras membuat dirinya tampak tegar. Namun, perempuan di hadapannya lebih tangguh dari yang Ia bayangkan.

“Luka mengubah seseorang dan aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang. Aku ingin tetap menjadi diriku yang sekarang. Jangan rubah aku dengan kejujuranmu.” Tak ada getir dalam suara sahabatnya, Azra, yang telah ia tancapkan belati di punggungnya dengan sengaja.

“Azra…” Trisya hendak meminta maaf namun pertahanannya telah runtuh, digantikan oleh rasa malu yang menghujani dirinya.

“Akan lebih mudah jika yang mengkhianatiku adalah orang yang memang membenciku, tapi orang itu hanya akan sekedar menyakitiku tanpa arti. Pengkhianatan datang dari orang yang sangat kupercaya dan sangat kuandalkan. Dari orang yang sangat kusayang.” Azra menyesap kopinya dengan tenang, “hal itu yang lebih menyulitkanku.” Tanpa Trisya dengar, suara debum kencang baru saja melesak di dalam dada sahabatnya. Hati dan rasa percaya Azra dihancurkan dengan telak oleh sebuah ego.

Trisya menyesal dan hal itu membuatnya merasa tak pantas menatap mata Azra, yang meskipun masih terlihat hangat seperti biasanya, Trisya tahu ada kilat luka di sana.

“Maafk…”

“Jangan.” Azra menghela napas, “Jangan meminta maaf. Hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah bawa Jo pergi menghilang bersamamu.”  Azra meletakan cangkir kopinya dengan hati-hati, sebentar lagi tahu lambungnya akan mengejang dan jantungnya berdetak lebih kencang, “menghilanglah dari hadapanku. Bersikaplah seperti kamu tidak mengenalku, sikap yang kamu gunakan saat kamu menggenggam tangan Jo.”

“Azra, kumohon…” Trisya tak sanggup menahan air matanya. Bulir air mata itu tak cukup memadamkan apa yang sudah terlanjur ia bakar. Segalanya telah hangus dan binasa.

“Cukup berbahagialah kalian berdua.” Azra tersenyum, “itu sudah lebih dari cukup mengobatiku. Setidaknya, tidak ada yang sia-sia dari tindakan kalian.” Azra beranjak dari kursinya, meninggalkan sahabat yang telah melindunginya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sahabat yang menyeka air matanya acapkali Azra jatuh tersungkur oleh kegagalan.

***

[ Lima jam sebelumnya ]

Trisya menggenggam tangan Jo, hangat yang dirasa oleh jemarinya menjalar sampai ke sudut-sudut kosong di hatinya yang tak terjamah sebelumnya.

“Hari ini kamu tidak terlambat.” Trisya tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bahu Jo.

“Azra membatalkan pemotretan hari ini dan aku tidak perlu mengantarnya.” Jo mengusap puncak kepala Trisya dengan kasih, “di sinilah aku sekarang. Menemanimu.”

Saat ia hendak mengecup pipi Jo, ponselnya bergetar. Nama sahabatnya nampak dalam layar, seperti yang sudah ia duga sebelumnya. Ia selalu menganggap Azra adalah bayi kecil yang tidak beranjak dewasa sama sekali. Azra akan menangis ketika seseorang mengganggunya, hingga Trisya terpaksa menghajar siapapun yang menyakiti Azra. Tapi ia lelah. Ia pun butuh perlindungan. Ia pun ingin dilindungi.

“Azra.” Trisya menerima panggilan sahabatnya, “ada apa?”

“Apakah menyenangkan? Seberapa dalam pisau yang hendak kamu tancapkan?” Azra bersuara di sebrang sana. Belum sempat Trisya mengerti, seseorang menepuk bahunya.

“Sayang…” Jo membelalak melihat kekasihnya berdiri di antara dirinya dan Trisya.

“Aku sudah tidak ada urusan dengan sampah sepertimu, aku hanya ingin menuntaskan sesuatu dengan sahabatku.”

***

Tidak ada komentar: