Aku termangu, mendengar
dua bagian dari diriku berbicara. Otak dan hati ku sedang tak akur, dan
lagi-lagi hal yang dipermasalahkan masih sama. Apalagi kalau bukan cinta?
“cinta itu tolol!” otak
ku berteriak, teriakannya terngiang-ngiang dikepalaku. Saking kerasnya aku
hampir limbung, untung aku masih bisa mempertahankan kedudukan ku.
“lalu? Bagaimana dengan
logika?” hati ku berteriak, namun teriakannya lebih lembut.
“logika dapat
diperhitungkan! Berbeda dengan cinta yang hanya sekedar perasaan.”
“tapi cinta itu ada!”
“cinta itu ilusi!”
otakku berkata tajam, lagi-lagi aku harus memejamkan mataku untuk menahan
pusing yang hebat.
“tapi manusia butuh
cinta.” Hatiku tak gentarnya untuk membela.
“cinta itu khayalan
manusia! Mereka yang buat khayalan itu sendiri dan mereka pula yang sakit
akibatnya!” aku jatuh terduduk, masih terus mendengar yang sedang mereka
ributkan.
Hatiku terdiam cukup
lama, tidak menjawab. Kemudian air mataku menetes.
“Lihat! Lihat!
Menangis! Itu adalah salah satu ulah cinta!” Otakku berteriak girang. Hatiku
tersayat, perih. Ia merintih menahan sakitnya.
“tapi tak selamanya
cinta itu menyakitkan!” hatiku menjerit parau. “jika cinta sekarang mengajarkan
betapa sakitnya, cinta dikemudian hari akan mengajarkan sisi lain dari cinta!”
“hey! Lihat goresan-goresan
di tubuhmu! Bukankah itu juga disebabkan oleh cinta?” otakku menajamkan kata
‘cinta’, ia meremehkannya. Hatiku menunduk, melihat sekujur tubuhnya yang
banyak sekali terdapat goresan luka.
“suatu hari nanti, akan
ada yang mengobatinya.” Hatiku berkata lembut.
“kau itu terlalu bodoh!
Masih mau disakiti, tidak pernah pakai logika sih!” otakku berkata sombong.
“tidak selamanya yang
memakai logika itu benar!” Hatiku masih berusaha untuk berbicara sambil menahan
sakitnya. Pipiku dibanjiri oleh air mata. Sudah cukup! Jangan begini terus! Aku
mencoba berteriak, namun tak kuasa untuk melakukannya. Aku hanya dapat
membiarkan air mataku jatuh semakin deras.
“manusia selalu
terlihat lemah karena perasaan!”otakku masih tak mau berhenti mengganggu
hatiku.
“kalau tidak punya
perasaan, akan jadi apa mereka nanti? Pasti semaunya.” Hatiku menjawab.
Suasana menjadi hening.
Hening.
Masih hening.
Dan masih hening.
Namun….
“barbaikanlah.” Sebuah
suara akhirnya muncul.
“untuk apa?!” Teriak
otak menjawabnya.
“kalian saling
membutuhkan.”
“Tidak! Aku terlalu
kuat untuk berbaikan dengan hati! Ia saja yang terlalu lemah makanya
membutuhkanku.” Umpat otak.
Tidak muncul lagi
sebuah suara. Otak merasa menang dan menatap tajam hati.
“kita saling membutuhkan.” Rintih hati. “cinta
juga harus memakai logika, kita harus seimbang.” Hati mendongak, melihat kearah
otak. Otak terdiam dan tak ada lagi gaya sombongnya.
“karena kita
bertengkar, semuanya jadi tak pasti. Menjadi tak karuan.” Hatiku berkata lagi.
Otak diam dan mencerna kata-kata hati.
Kali ini pusing yang
melanda ku mereda. Tangis ku berhenti, keganjalan yang bersarang di dadaku
berangsung-angsur lenyap. Apakah mereka sudah berbaikan? Benar. Cinta juga
memakai logika, jangan terlalu bodoh. Perasaan tanpa logika dan logika tanpa
perasaan itu tak bisa. Mereka harus seimbang. Benar. Seimbang.
-Bunga Cinka
-Bunga Cinka
1 komentar:
bagus tulisannya :). kenapa enggak diterusin aja
Posting Komentar