Kamis, 26 Juli 2012

Otak dan Hati

Aku termangu, mendengar dua bagian dari diriku berbicara. Otak dan hati ku sedang tak akur, dan lagi-lagi hal yang dipermasalahkan masih sama. Apalagi kalau bukan cinta?
“cinta itu tolol!” otak ku berteriak, teriakannya terngiang-ngiang dikepalaku. Saking kerasnya aku hampir limbung, untung aku masih bisa mempertahankan kedudukan ku.
“lalu? Bagaimana dengan logika?” hati ku berteriak, namun teriakannya lebih lembut.
“logika dapat diperhitungkan! Berbeda dengan cinta yang hanya sekedar perasaan.”
“tapi cinta itu ada!”
“cinta itu ilusi!” otakku berkata tajam, lagi-lagi aku harus memejamkan mataku untuk menahan pusing yang hebat.
“tapi manusia butuh cinta.” Hatiku tak gentarnya untuk membela.
“cinta itu khayalan manusia! Mereka yang buat khayalan itu sendiri dan mereka pula yang sakit akibatnya!” aku jatuh terduduk, masih terus mendengar yang sedang mereka ributkan.
Hatiku terdiam cukup lama, tidak menjawab. Kemudian air mataku menetes.
“Lihat! Lihat! Menangis! Itu adalah salah satu ulah cinta!” Otakku berteriak girang. Hatiku tersayat, perih. Ia merintih menahan sakitnya.
“tapi tak selamanya cinta itu menyakitkan!” hatiku menjerit parau. “jika cinta sekarang mengajarkan betapa sakitnya, cinta dikemudian hari akan mengajarkan sisi lain dari cinta!”
“hey! Lihat goresan-goresan di tubuhmu! Bukankah itu juga disebabkan oleh cinta?” otakku menajamkan kata ‘cinta’, ia meremehkannya. Hatiku menunduk, melihat sekujur tubuhnya yang banyak sekali terdapat goresan luka.
“suatu hari nanti, akan ada yang mengobatinya.” Hatiku berkata lembut.
“kau itu terlalu bodoh! Masih mau disakiti, tidak pernah pakai logika sih!” otakku berkata sombong.
“tidak selamanya yang memakai logika itu benar!” Hatiku masih berusaha untuk berbicara sambil menahan sakitnya. Pipiku dibanjiri oleh air mata. Sudah cukup! Jangan begini terus! Aku mencoba berteriak, namun tak kuasa untuk melakukannya. Aku hanya dapat membiarkan air mataku jatuh semakin deras.
“manusia selalu terlihat lemah karena perasaan!”otakku masih tak mau berhenti mengganggu hatiku.
“kalau tidak punya perasaan, akan jadi apa mereka nanti? Pasti semaunya.” Hatiku menjawab.
Suasana menjadi hening.
Hening.
Masih hening.
Dan masih hening.
Namun….
“barbaikanlah.” Sebuah suara akhirnya muncul.
“untuk apa?!” Teriak otak menjawabnya.
“kalian saling membutuhkan.”
“Tidak! Aku terlalu kuat untuk berbaikan dengan hati! Ia saja yang terlalu lemah makanya membutuhkanku.” Umpat otak.
Tidak muncul lagi sebuah suara. Otak merasa menang dan menatap tajam hati.
 “kita saling membutuhkan.” Rintih hati. “cinta juga harus memakai logika, kita harus seimbang.” Hati mendongak, melihat kearah otak. Otak terdiam dan tak ada lagi gaya sombongnya.
“karena kita bertengkar, semuanya jadi tak pasti. Menjadi tak karuan.” Hatiku berkata lagi. Otak diam dan mencerna kata-kata hati.
Kali ini pusing yang melanda ku mereda. Tangis ku berhenti, keganjalan yang bersarang di dadaku berangsung-angsur lenyap. Apakah mereka sudah berbaikan? Benar. Cinta juga memakai logika, jangan terlalu bodoh. Perasaan tanpa logika dan logika tanpa perasaan itu tak bisa. Mereka harus seimbang. Benar. Seimbang.


-Bunga Cinka

1 komentar:

Anonim mengatakan...

bagus tulisannya :). kenapa enggak diterusin aja