Pernah saya membaca sebuah kalimat yang ditulis menggunakan cat
semprot di dinding salah satu rumah yang saya lewati, saya membaca "Jika
tidak ada sesuatu yang berguna dan indah untuk diucapkan lebih baik diam."
dari balik jendela kusam bus kota yang mengeluarkan asap hitam, menyebalkan.
Saya mengutuk dalam hati.
Saya
mengalihkan pandangan, meneliti setiap wajah yang duduk di kursi orange bus.
Seorang bapak menyandang tas kebesaran baru saja masuk. Tergopoh-gopoh untuk
duduk di kursi terdekat. Saya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa bapak itu
seorang diri? Apa yang dibawanya? Apa pekerjaannya? Raut wajahnya lelah,
guratan di wajahnya menggambarkan perjuangan dalam menyelami kehidupan.
Satu
hal sensitif menyentil hati saya, "bagaimana kalau ayah saya yang berada
di posisi seperti bapak itu?" Ah, rasanya sesak dan tiba-tiba ingin
menangis. Tidak bisa begitu saja dikatakan berlebihan, mengingat hubungan
antara ayah dan saya memang cukup dekat. Dalam hati saya mengucap syukur,
jarang sekali ada hal kecil yang bisa membuat saya mengucap syukur. Padahal,
ada banyak hal yang patut disyukuri. Sekecil apapun pemberian Tuhan.
Saya
kembali meneliti setiap wajah satu persatu, seorang ibu membawa banyak sekali
kantung-kantung belanjaan sedang duduk memandangi pemandangan yang disajikan
oleh jendela bus kota. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran Sang Ibu. Saya
masih terlalu kecil untuk memikirkan hal-hal runyam yang menyangkut masa depan
sebuah keluarga. Misalnya, bayar tagihan listrik dan air yang tiba-tiba
membengkak di akhir bulan, keperluan sekolah anak dimulai dari seragam sampai
buku dan perintilan-perintilannya, serta harus pintar-pintar memilih menu
masakan di rumah. Kalau itu-itu saja karena pendapatan pas-passan, bisa-bisa
suami dan anak protes. Untunglah, di usia saya yang sekarang hal terumit yang
bisa dipikirkan hanyalah logaritma dan kawan-kawannya. Omong-omong mama di
rumah sedang apa, ya?
Saya
kembali mengedarkan pandangan, ada pemuda yang sesaat terlihat kelelahan lalu
tersenyum saat membaca sebuah pesan dari layar ponselnya. Wah, mungkin ia baru
saja mendapat pesan dari seseorang yang dikasihinya atau orang tua yang
mengabarkan sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Entahlah, yang
jelas sebuah pesan singkat bernada positif bisa memunculkan kembali gairah
pemuda yang sempat hilang tadi. Ah, sehabis ini saya harus lebih sering lagi
menyebarkan semangat positif. Dimulai dari hal sederhana, melalui pesan singkat
misalnya.
Ada
segerombolan anak sekolahan di bangku paling belakang bus. Mereka berisik
merencanakan masa depan masing-masing dan menyatakan tidak sabar untuk menjadi
orang dewasa. Kata mereka, di usia mereka saat ini terlalu banyak larangan dan
peraturan yang harus dipatuhi. Di usia mereka mempunyai cita-cita
itu merupakan sebuah keharusan. Masa-masa paling menyenangkan dari semua fase
kehidupan. Fokus mengejar cita-cita, pelajari diri sendiri, temukan semua
potensi diri dan gali terus di usia yang masih muda. Tidak perlu
terburu-buru. Semoga di masa depan semua mimpi-mimpi mereka tidak ditarik
secara paksa dan digantikan oleh sebuah persepsi baru yang dinamakan realitas.
Saya
kembali menatap jemari-jemari saya yang pucat. Memang, tidak ada hal yang
istimewa di sini, tapi entah kenapa otak saya memikirkan hal yang sebelumnya
tidak saya pikirkan.
Tidak
ada orang kelas menengah ke atas yang rela panas-panasan dan terkena debu di
dalam bus kota. Tanpa sadar saya tersenyum, ada sesuatu yang sulit dijelaskan
merasuk ke dalam hati saya. Tanpa sadar saya belajar banyak hanya dari naik bus
kota. Kesederhanaan.
Saya
terdiam, tidak perlu tempat tak berpenghuni seperti hutan dan lautan untuk bisa
berduaan saja dengan pikiran. Saya yang tadinya gelisah, diam-diam berdamai
dengan diri saya sendiri. Raut wajah lelah karena bekerja, pantang menyerah.
Tersenyum karena di luar sana ada banyak orang yang peduli dan menyayangi.
Tidak perlu mengeluh atas semua beban, toh Tuhan masih memberikan banyak hal
yang masih dapat dinikmati.
Saya
menunduk. Saya ingat saya sering merasa tak bersyukur dan ingin menyerah.
Sering membentak, mengumpat, mengeluh, berteriak kepada orang-orang di
sekeliling saya.
Sungguh
bukan hal yang indah dan berguna untuk diucapkan.
Dalam
diam saya belajar.
Saya
harus lebih banyak diam, menutup mulut lalu membuka mata lebar-lebar. Ada
banyak media pembelajaran tersembunyi yang Tuhan berikan jika kita bisa bisa
menjernihkan mata kita.
Dalam
diam saya belajar.
Saya
harus bisa melihat dari berbagai arah dan sisi. Tidak perlu menunjukkan siapa
kita kepada orang lain dengan berteriak dan memerintah, cukup dengan diam dan
menjadi contoh.
Bus
kota tetap melaju, mengantarkan kami-para penumpang-sampai ke tempat tujuan.