Kamis, 09 Juni 2016

DIAM



Pernah saya membaca sebuah kalimat yang ditulis menggunakan cat semprot di dinding salah satu rumah yang saya lewati, saya membaca "Jika tidak ada sesuatu yang berguna dan indah untuk diucapkan lebih baik diam." dari balik jendela kusam bus kota yang mengeluarkan asap hitam, menyebalkan. Saya mengutuk dalam hati.

Saya mengalihkan pandangan, meneliti setiap wajah yang duduk di kursi orange bus. Seorang bapak menyandang tas kebesaran baru saja masuk. Tergopoh-gopoh untuk duduk di kursi terdekat. Saya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa bapak itu seorang diri? Apa yang dibawanya? Apa pekerjaannya? Raut wajahnya lelah, guratan di wajahnya menggambarkan perjuangan dalam menyelami kehidupan.

Satu hal sensitif menyentil hati saya, "bagaimana kalau ayah saya yang berada di posisi seperti bapak itu?" Ah, rasanya sesak dan tiba-tiba ingin menangis. Tidak bisa begitu saja dikatakan berlebihan, mengingat hubungan antara ayah dan saya memang cukup dekat. Dalam hati saya mengucap syukur, jarang sekali ada hal kecil yang bisa membuat saya mengucap syukur. Padahal, ada banyak hal yang patut disyukuri. Sekecil apapun pemberian Tuhan.

Saya kembali meneliti setiap wajah satu persatu, seorang ibu membawa banyak sekali kantung-kantung belanjaan sedang duduk memandangi pemandangan yang disajikan oleh jendela bus kota. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran Sang Ibu. Saya masih terlalu kecil untuk memikirkan hal-hal runyam yang menyangkut masa depan sebuah keluarga. Misalnya, bayar tagihan listrik dan air yang tiba-tiba membengkak di akhir bulan, keperluan sekolah anak dimulai dari seragam sampai buku dan perintilan-perintilannya, serta harus pintar-pintar memilih menu masakan di rumah. Kalau itu-itu saja karena pendapatan pas-passan, bisa-bisa suami dan anak protes. Untunglah, di usia saya yang sekarang hal terumit yang bisa dipikirkan hanyalah logaritma dan kawan-kawannya. Omong-omong mama di rumah sedang apa, ya?

Saya kembali mengedarkan pandangan, ada pemuda yang sesaat terlihat kelelahan lalu tersenyum saat membaca sebuah pesan dari layar ponselnya. Wah, mungkin ia baru saja mendapat pesan dari seseorang yang dikasihinya atau orang tua yang mengabarkan sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Entahlah, yang jelas sebuah pesan singkat bernada positif bisa memunculkan kembali gairah pemuda yang sempat hilang tadi. Ah, sehabis ini saya harus lebih sering lagi menyebarkan semangat positif. Dimulai dari hal sederhana, melalui pesan singkat misalnya.

Ada segerombolan anak sekolahan di bangku paling belakang bus. Mereka berisik merencanakan masa depan masing-masing dan menyatakan tidak sabar untuk menjadi orang dewasa. Kata mereka, di usia mereka saat ini terlalu banyak larangan dan peraturan yang harus dipatuhi. Di usia mereka mempunyai cita-cita itu merupakan sebuah keharusan. Masa-masa paling menyenangkan dari semua fase kehidupan. Fokus mengejar cita-cita, pelajari diri sendiri, temukan semua potensi diri dan gali terus di usia yang masih muda. Tidak perlu terburu-buru. Semoga di masa depan semua mimpi-mimpi mereka tidak ditarik secara paksa dan digantikan oleh sebuah persepsi baru yang dinamakan realitas.

Saya kembali menatap jemari-jemari saya yang pucat. Memang, tidak ada hal yang istimewa di sini, tapi entah kenapa otak saya memikirkan hal yang sebelumnya tidak saya pikirkan.
Tidak ada orang kelas menengah ke atas yang rela panas-panasan dan terkena debu di dalam bus kota. Tanpa sadar saya tersenyum, ada sesuatu yang sulit dijelaskan merasuk ke dalam hati saya. Tanpa sadar saya belajar banyak hanya dari naik bus kota. Kesederhanaan.

Saya terdiam, tidak perlu tempat tak berpenghuni seperti hutan dan lautan untuk bisa berduaan saja dengan pikiran. Saya yang tadinya gelisah, diam-diam berdamai dengan diri saya sendiri. Raut wajah lelah karena bekerja, pantang menyerah. Tersenyum karena di luar sana ada banyak orang yang peduli dan menyayangi. Tidak perlu mengeluh atas semua beban, toh Tuhan masih memberikan banyak hal yang masih dapat dinikmati.

Saya menunduk. Saya ingat saya sering merasa tak bersyukur dan ingin menyerah. Sering membentak, mengumpat, mengeluh, berteriak kepada orang-orang di sekeliling saya.
Sungguh bukan hal yang indah dan berguna untuk diucapkan.

Dalam diam saya belajar. 
Saya harus lebih banyak diam, menutup mulut lalu membuka mata lebar-lebar. Ada banyak media pembelajaran tersembunyi yang Tuhan berikan jika kita bisa bisa menjernihkan mata kita.

Dalam diam saya belajar.
Saya harus bisa melihat dari berbagai arah dan sisi. Tidak perlu menunjukkan siapa kita kepada orang lain dengan berteriak dan memerintah, cukup dengan diam dan menjadi contoh. 

Bus kota tetap melaju, mengantarkan kami-para penumpang-sampai ke tempat tujuan.

Tidak ada komentar: