Sebuah
surat untuk diriku di 5 tahun yang akan datang.
Halo,
kamu!
Diriku
di lima tahun yang akan datang.
Sudah
melangkah sejauh mana? Masih sering menangis? Masih sering merasa takut? Masih
sering terjatuh? Masih sering terseret
rasa menyerah?
Perasaan-perasaan
itu bisa saja hilang atau tidak. Tapi, itu bukan masalah. Yang paling penting
adalah bagaimana kamu mengendalikan itu semua.
Ingat,
ketika kamu ingin berhenti melangkah, dulu kamu begitu semangat berlari untuk
mengejar berbagai ketertinggalan. Sudah terlalu lelah? Kalau begitu, aku harus
menagih komitmenmu. Katanya, kamu tidak akan pernah berhenti melangkah,
berlari, demi mimpi-mimpi yang ingin kamu wujudkan. Orang yang berkomitmen akan
terus menyeret kakinya meskipun lelah, yang penting bergerak maju. Komitmenmu
harus kuat.
Dulu,
kamu menangis karena menyesal atas keputusan yang telah kamu ambil. Seharusnya,
waktu lima tahun sudah lebih dari cukup untuk membuat kamu berdamai dengan
dirimu di masa lalu. Seharusnya, waktu lima tahun sudah lebih dari cukup untuk
menyadarkan kamu bahwa keputusan yang kamu ambil sudah benar. Keputusan yang
menurutmu salah, ternyata yang paling banyak memberikanmu pelajaran. Tidak
perlu menyesal dengan itu. Aku tidak mau diriku di masa depan berhenti bergerak
maju hanya karena setiap langkahnya diikuti beribu-ribu masa lalunya. Kamu
diajarkan menjadi lebih kuat dengan babak belur terlebih dahulu. Jadi,
menangislah untuk hal yang benar-benar penting. Penyesalan bukan salah satunya.
Apa
kamu masih sering merasa takut? Rasa takut itu wajar. Rasa takut itu hinggap di
setiap sudut hati manusia. Aku sangat tidak nyaman dengan perasaan takut itu
karena membuat tubuhku gemetaran dan mendadak demam. Aku ingat ketika pertama
kali memasuki kelas menari dari choreographer
ternama yang dulu hanya bisa kulihat dari video Youtube dan televisi, aku gugup dan takut setengah mati, tapi
setelah aku memberanikan diri untuk menginjakkan kakiku ke dalam studio, aku
akan menyesal seumur hidup jika terkalahkan dengan rasa takut. Nah, di sini aku
sudah mengatasi sebagian rasa takutku, bagaimana di sana? Waktu lima tahun
pasti banyak sekali ketakutan-ketakutan yang menghadang saat memulai langkah
baru, saat memberanikan diri keluar dari zona nyaman, saat mencoba hal baru dan
saat membuat kesalahan. Bukan masalah, setiap kamu berhasil mengatasi rasa
takutmu satu demi satu, kamu akan berkembang. Terus berkembang menjadi dirimu
yang lebih baik. Jangan sampai terkungkung dengan rasa takut. Mustahil tidak mempunyai
rasa takut sama sekali, setidaknya belajarlah untuk mengatasinya.
Tidak
bisa bangkit karena terjatuh lagi terjatuh lagi? Rintangan yang membuat kamu
terjatuh itu diciptakan untuk membuatmu bisa melihat dari berbagai sisi,
menciptakan berbagai persepsi. Terjatuh yang dimaksud disini adalah kegagalan.
Orang hebat di luar sana mengatakan, “kesuksesanmu itu dirangkai dari berbagai
macam bentuk kegagalan.” Nah, kamu tidak bisa hanya menganggukan kepala setelah
mendengar kalimat itu. Kamu harus merasakan gagalmu sendiri. Harus terjatuh
berkali-kali dan tidak kenal lelah untuk bangkit. Habiskan jatah gagalmu
mumpung masih muda. Diriku di lima tahun yang akan datang masih muda, kan?
Ingat ya, tidak pernah ada yang mudah untuk mencapai sesuatu.
Rintangan-rintangan itu dirangkai untuk membuatmu banyak belajar. Jangan lupa
untuk terus berdiri dan berlari lagi setelah terjatuh. Diriku di lima tahun
yang akan datang masih terlalu dini untuk terpuruk karena sebuah kegagalan.
Kegagalanmu pasti masih sedikit.
Diriku
di sini masih sering berfikir untuk menyerah. Semoga, benturan-benturan selama
lima tahun sudah lebih menguatkanku. Aku tidak bisa berharap lebih kuat ketika
aku hanya hidup enak-enakkan, kan? Percayalah, menyerah hanyalah untuk para
pecundang. Diriku bukan pecundang. Kalau saja semua orang hebat menyerah
setelah gagal beribu-ribu kali, malamku dan malammu di sana hanya ditemani
bulan. Pencapaian yang ingin kamu capai itu memang jual mahal. Ingin lihat
perjuanganmu dulu. Jadi, jangan menyerah sebelum menaklukan dia, ya!
Diriku
di lima tahun yang akan datang, cita-citamu belum goyah, kan? Aku tidak mau
hidup tanpa tahu ke mana tujuan kakiku melangkah, cita-citaku adalah tujuanku. Masih
senang bermimpi, kan? Aku tidak mau hidupku gersang karena takut bermimpi,
mimpi adalah awal. Semua orang hebat memberanikan dirinya untuk bermimpi sampai
akhirnya mimpinya menjadi sungguhan.
Diriku
di lima tahun yang akan datang, kamu adalah diriku yang sudah sangat jauh lebih
baik. Diriku yang sudah melangkah jauh entah sudah di mana.
-Bunga Cinka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar