Rabu, 08 Juni 2016

Sudah Ada di Mana?



Sebuah surat untuk diriku di 5 tahun yang akan datang.
Halo, kamu!
Diriku di lima tahun yang akan datang.
Sudah melangkah sejauh mana? Masih sering menangis? Masih sering merasa takut? Masih sering terjatuh? Masih sering terseret rasa menyerah?
Perasaan-perasaan itu bisa saja hilang atau tidak. Tapi, itu bukan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana kamu mengendalikan itu semua.
Ingat, ketika kamu ingin berhenti melangkah, dulu kamu begitu semangat berlari untuk mengejar berbagai ketertinggalan. Sudah terlalu lelah? Kalau begitu, aku harus menagih komitmenmu. Katanya, kamu tidak akan pernah berhenti melangkah, berlari, demi mimpi-mimpi yang ingin kamu wujudkan. Orang yang berkomitmen akan terus menyeret kakinya meskipun lelah, yang penting bergerak maju. Komitmenmu harus kuat.
Dulu, kamu menangis karena menyesal atas keputusan yang telah kamu ambil. Seharusnya, waktu lima tahun sudah lebih dari cukup untuk membuat kamu berdamai dengan dirimu di masa lalu. Seharusnya, waktu lima tahun sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan kamu bahwa keputusan yang kamu ambil sudah benar. Keputusan yang menurutmu salah, ternyata yang paling banyak memberikanmu pelajaran. Tidak perlu menyesal dengan itu. Aku tidak mau diriku di masa depan berhenti bergerak maju hanya karena setiap langkahnya diikuti beribu-ribu masa lalunya. Kamu diajarkan menjadi lebih kuat dengan babak belur terlebih dahulu. Jadi, menangislah untuk hal yang benar-benar penting. Penyesalan bukan salah satunya.
Apa kamu masih sering merasa takut? Rasa takut itu wajar. Rasa takut itu hinggap di setiap sudut hati manusia. Aku sangat tidak nyaman dengan perasaan takut itu karena membuat tubuhku gemetaran dan mendadak demam. Aku ingat ketika pertama kali memasuki kelas menari dari choreographer ternama yang dulu hanya bisa kulihat dari video Youtube dan televisi, aku gugup dan takut setengah mati, tapi setelah aku memberanikan diri untuk menginjakkan kakiku ke dalam studio, aku akan menyesal seumur hidup jika terkalahkan dengan rasa takut. Nah, di sini aku sudah mengatasi sebagian rasa takutku, bagaimana di sana? Waktu lima tahun pasti banyak sekali ketakutan-ketakutan yang menghadang saat memulai langkah baru, saat memberanikan diri keluar dari zona nyaman, saat mencoba hal baru dan saat membuat kesalahan. Bukan masalah, setiap kamu berhasil mengatasi rasa takutmu satu demi satu, kamu akan berkembang. Terus berkembang menjadi dirimu yang lebih baik. Jangan sampai terkungkung dengan rasa takut. Mustahil tidak mempunyai rasa takut sama sekali, setidaknya belajarlah untuk mengatasinya.
Tidak bisa bangkit karena terjatuh lagi terjatuh lagi? Rintangan yang membuat kamu terjatuh itu diciptakan untuk membuatmu bisa melihat dari berbagai sisi, menciptakan berbagai persepsi. Terjatuh yang dimaksud disini adalah kegagalan. Orang hebat di luar sana mengatakan, “kesuksesanmu itu dirangkai dari berbagai macam bentuk kegagalan.” Nah, kamu tidak bisa hanya menganggukan kepala setelah mendengar kalimat itu. Kamu harus merasakan gagalmu sendiri. Harus terjatuh berkali-kali dan tidak kenal lelah untuk bangkit. Habiskan jatah gagalmu mumpung masih muda. Diriku di lima tahun yang akan datang masih muda, kan? Ingat ya, tidak pernah ada yang mudah untuk mencapai sesuatu. Rintangan-rintangan itu dirangkai untuk membuatmu banyak belajar. Jangan lupa untuk terus berdiri dan berlari lagi setelah terjatuh. Diriku di lima tahun yang akan datang masih terlalu dini untuk terpuruk karena sebuah kegagalan. Kegagalanmu pasti masih sedikit.
Diriku di sini masih sering berfikir untuk menyerah. Semoga, benturan-benturan selama lima tahun sudah lebih menguatkanku. Aku tidak bisa berharap lebih kuat ketika aku hanya hidup enak-enakkan, kan? Percayalah, menyerah hanyalah untuk para pecundang. Diriku bukan pecundang. Kalau saja semua orang hebat menyerah setelah gagal beribu-ribu kali, malamku dan malammu di sana hanya ditemani bulan. Pencapaian yang ingin kamu capai itu memang jual mahal. Ingin lihat perjuanganmu dulu. Jadi, jangan menyerah sebelum menaklukan dia, ya!
Diriku di lima tahun yang akan datang, cita-citamu belum goyah, kan? Aku tidak mau hidup tanpa tahu ke mana tujuan kakiku melangkah, cita-citaku adalah tujuanku. Masih senang bermimpi, kan? Aku tidak mau hidupku gersang karena takut bermimpi, mimpi adalah awal. Semua orang hebat memberanikan dirinya untuk bermimpi sampai akhirnya mimpinya menjadi sungguhan.
Diriku di lima tahun yang akan datang, kamu adalah diriku yang sudah sangat jauh lebih baik. Diriku yang sudah melangkah jauh entah sudah di mana.

-Bunga Cinka

Tidak ada komentar: