Sabtu,
pukul 22.00
Gerimis
kecil memayungi kota Jakarta, aroma aspal basah menemani ke manapun orang-orang
melangkah. Gemerlap kota Jakarta di malam hari tidak padam meskipun langit
mendung. Ia menatapku sendu. Matanya tetap tajam, setajam pertama kali aku
menatap matanya sambil menggumamkan kata ‘terima kasih’ dan menjabat tangannya
yang meskipun kasar, tetap terasa hangat. Tidak pernah terucap dari bibirnya
tentang perasaan yang sudah sama-sama kami tahu.
Namun,
malam ini, disaksikan langit kelam, tatapannya menggetarkan tubuhku. Ia memaksa
jantungku bekerja beberapa kali lebih cepat. Bayangan kami memantul-mantul di
dinding. Masing-masing dari kami menikmati suasana seperti ini. Hanya saling
menatap, mendengar bisikkan hati yang lirih. Namun, kemudian ia membuka suara. Kesunyian
di antara kami dipecahkan oleh suaranya yang berat dan sedikit gemetar. Mungkin,
karena kami diselimuti udara dingin.
“Waktu
itu, saya meminta kamu untuk menunggu.” Suaranya biasanya menenangkan, kali ini
terdengar sarat akan kesedihan. Aku mengangguk. Ia menelan ludah, memelankan
suara. Aku berani bersumpah melihat matanya redup.
“Tidak
usah lagi. Saya tahu kamu lelah.” Ia sedikit tercekat. Matanya memerah,
berjuang untuk tidak menangis. Sementara, aku hanya terdiam. Tidak berani
bersuara. Aku hendak protes, namun tangisku akan tumpah seiring bibirku terbuka
untuk menyatakan bahwa aku tidak lelah sama sekali. Bahwa diriku mencintainya. Kemudian
ia berbalik. Kulihat punggunya perlahan-lahan menjauh. Langit sudah tahu aku
akan bersedih, maka ia lebih dulu
menangis. Airnya mengusap pipiku, menyamarkan tangis tidak berdaya.
“Tapi,
aku cinta kamu.” Bisikku lirih.
***
Sabtu,
pukul 20.00
Aku
belum mengalihkan pandanganku dari jendela, di luar masih hujan. Kemudian, aku
memutar kepala. Beralih dari pemandangan membosankan yang disajikan jendela,
menuju wanita yang sedang menari dengan wajah berbinar. Aku menatapnya, seperti
biasa. Sebentar lagi ia akan menatapku sambil tersenyum, seperti biasa. Dugaanku
benar. Namun, malam ini aku sudah mengambil keputusan. Aku harus tegas terhadap
diriku sendiri. Aku memalingkan wajah, menatap laptop yang berpendar di
hadapanku. Aku melirik jam digital di sudut kanan bawah laptop, masih dua jam
lagi latihan menari selesai. Dia pasti tidak menghilangkan senyumnya. Matanya pasti
tetap berbinar menatap satu persatu teman-temanku yang ada di hadapannya. Begitu
terus sampai latihan usai.
Akhirnya,
latihan selesai. Aku harus memuji diri karena kesabaranku untuk menunggu selama
lebih dari dua jam. Aku berjalan keluar ruangan, beberapa detik berikutnya aku
mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku terus berjalan sampai keluar
gedung, membiarkan diriku basah perlahan-lahan karena rintik hujan. Aku berbalik,
menatap matanya yang hitam. Demi Tuhan pertahananku akan runtuh jika
terus-terusan berhadapan dengannya dan menatap sepasang bola mata terindah yang
pernah aku lihat.
Aku
memaksa diriku berbicaara.
“Waktu
itu,” Demi Tuhan! Bernapas pun sulit!
“Aku
memintamu menunggu.” Aku melihat perubahan nyata dalam wajahnya. Aku tidak bisa
bertahan lebih lama lagi. Aku merasa diriku mengambang sampai aku tidak sadar
telah meluncurkan kata-kata yang berulang kali kulatih di siang hari.
“Tidak
usah lagi. Saya tahu kamu lelah.” Aku langsung berbalik meninggalkannya sebelum
pertahananku benar-benar runtuh. Dia pasti masih diam di tempatnya, tidak ada
kata-kata yang keluar dari bibirnya. Tetapi, aku tidak bisa berbalik lagi.
“Tapi,
aku cinta dia.” Bisikku kepada hujan.
Ia
pasti akan bersujud di hamparan sajadah yang terbentang di lantai yang dingin,
berbisik agar didengar langit.
Aku
sendiri akan duduk di deretan kursi paling depan, melantunkan nyanyian
kesedihanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar