Selasa, 07 Juni 2016

Tidak Usah Lagi



Sabtu, pukul 22.00

Gerimis kecil memayungi kota Jakarta, aroma aspal basah menemani ke manapun orang-orang melangkah. Gemerlap kota Jakarta di malam hari tidak padam meskipun langit mendung. Ia menatapku sendu. Matanya tetap tajam, setajam pertama kali aku menatap matanya sambil menggumamkan kata ‘terima kasih’ dan menjabat tangannya yang meskipun kasar, tetap terasa hangat. Tidak pernah terucap dari bibirnya tentang perasaan yang sudah sama-sama kami tahu.
Namun, malam ini, disaksikan langit kelam, tatapannya menggetarkan tubuhku. Ia memaksa jantungku bekerja beberapa kali lebih cepat. Bayangan kami memantul-mantul di dinding. Masing-masing dari kami menikmati suasana seperti ini. Hanya saling menatap, mendengar bisikkan hati yang lirih. Namun, kemudian ia membuka suara. Kesunyian di antara kami dipecahkan oleh suaranya yang berat dan sedikit gemetar. Mungkin, karena kami diselimuti udara dingin.
“Waktu itu, saya meminta kamu untuk menunggu.” Suaranya biasanya menenangkan, kali ini terdengar sarat akan kesedihan. Aku mengangguk. Ia menelan ludah, memelankan suara. Aku berani bersumpah melihat matanya redup.
“Tidak usah lagi. Saya tahu kamu lelah.” Ia sedikit tercekat. Matanya memerah, berjuang untuk tidak menangis. Sementara, aku hanya terdiam. Tidak berani bersuara. Aku hendak protes, namun tangisku akan tumpah seiring bibirku terbuka untuk menyatakan bahwa aku tidak lelah sama sekali. Bahwa diriku mencintainya. Kemudian ia berbalik. Kulihat punggunya perlahan-lahan menjauh. Langit sudah tahu aku akan bersedih, maka ia lebih dulu menangis. Airnya mengusap pipiku, menyamarkan tangis tidak berdaya.
“Tapi, aku cinta kamu.” Bisikku lirih.

***
 Sabtu, pukul 20.00

Aku belum mengalihkan pandanganku dari jendela, di luar masih hujan. Kemudian, aku memutar kepala. Beralih dari pemandangan membosankan yang disajikan jendela, menuju wanita yang sedang menari dengan wajah berbinar. Aku menatapnya, seperti biasa. Sebentar lagi ia akan menatapku sambil tersenyum, seperti biasa. Dugaanku benar. Namun, malam ini aku sudah mengambil keputusan. Aku harus tegas terhadap diriku sendiri. Aku memalingkan wajah, menatap laptop yang berpendar di hadapanku. Aku melirik jam digital di sudut kanan bawah laptop, masih dua jam lagi latihan menari selesai. Dia pasti tidak menghilangkan senyumnya. Matanya pasti tetap berbinar menatap satu persatu teman-temanku yang ada di hadapannya. Begitu terus sampai latihan usai.
Akhirnya, latihan selesai. Aku harus memuji diri karena kesabaranku untuk menunggu selama lebih dari dua jam. Aku berjalan keluar ruangan, beberapa detik berikutnya aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku terus berjalan sampai keluar gedung, membiarkan diriku basah perlahan-lahan karena rintik hujan. Aku berbalik, menatap matanya yang hitam. Demi Tuhan pertahananku akan runtuh jika terus-terusan berhadapan dengannya dan menatap sepasang bola mata terindah yang pernah aku lihat.
Aku memaksa diriku berbicaara.
“Waktu itu,” Demi Tuhan! Bernapas pun sulit!
“Aku memintamu menunggu.” Aku melihat perubahan nyata dalam wajahnya. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku merasa diriku mengambang sampai aku tidak sadar telah meluncurkan kata-kata yang berulang kali kulatih di siang hari.
“Tidak usah lagi. Saya tahu kamu lelah.” Aku langsung berbalik meninggalkannya sebelum pertahananku benar-benar runtuh. Dia pasti masih diam di tempatnya, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Tetapi, aku tidak bisa berbalik lagi.
“Tapi, aku cinta dia.” Bisikku kepada hujan.
Ia pasti akan bersujud di hamparan sajadah yang terbentang di lantai yang dingin, berbisik agar didengar langit.
Aku sendiri akan duduk di deretan kursi paling depan, melantunkan nyanyian kesedihanku.

Tidak ada komentar: